Margonda selalu terdengar menarik bagi musisi.
Akses mudah, dekat kampus, hidup, dan penuh aktivitas kreatif. Tidak heran jika banyak yang mulai mencari studio musik profesional di Depok, khususnya area Margonda dan sekitarnya Universitas Indonesia.
Namun di titik ini, satu kesalahan sering terjadi:
musisi terlalu cepat bertanya “studio mana yang murah dan cepat?”
padahal pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Studio seperti apa yang sebenarnya dibutuhkan lagu saya?”
Tulisan ini tidak dibuat untuk mengarahkan musisi ke satu nama secara agresif.
Tulisan ini dibuat untuk membantu musisi memilih dengan sadar.
Karena dalam produksi musik, pilihan studio di awal sering menentukan:
Apakah lagu akan selesai?
Apakah biaya akan membengkak?
Apakah hasil akhirnya akan disesali atau tidak.
Margonda, Depok, dan Studio Musik
Secara geografis, Margonda adalah salah satu titik paling strategis di Depok. Dekat Jakarta, dekat kampus besar seperti Universitas Indonesia, dan dikelilingi komunitas kreatif yang aktif.
Dari luar, semuanya tampak ideal.
Namun realitanya, banyak studio di lokasi strategis tidak selalu siap menangani produksi lagu secara utuh.
Mengapa?
Karena lokasi sering dianggap nilai jual utama, sementara alur kerja dan pendekatan produksi justru tertinggal.
Padahal, lagu tidak hidup di alamat studio.
Lagu hidup di proses.
Kesalahan Umum Saat Mencari Studio Musik
Sebelum membahas kriteria ideal, ada baiknya kita melihat beberapa pola kesalahan yang sering terjadi.
1. Terlalu Fokus pada Harga per Jam
Harga murah memang menggoda.
Apalagi bagi musisi yang sedang merintis.
Namun yang sering luput disadari:
Harga murah tanpa arah = waktu terbuang
Waktu terbuang = biaya tambahan
Biaya tambahan = frustasi
Hahaha. Jangan takut. Kami sediakan solusinya.
Banyak proyek yang awalnya “hemat” justru berakhir lebih mahal karena:
Revisi berulang menyebabkan durasi jasa bertambah, biaya membengkak.
Rekaman ulang karena kurang persiapan dari musisi saat masuk ke studio.
Berpindah-pindah studio mengaburkan visi lagu.
2. Mengira Semua Studio Bisa Menangani Semua Kebutuhan
Tidak semua studio cocok untuk semua lagu.
Studio yang terbiasa:
Merekam podcast belum tentu nyaman menangani produksi musik emosional.
Studio yang kuat di live band belum tentu sensitif untuk lagu minimalis hingga full production.
Memilih studio tanpa melihat spesialisasi dan pendekatan sering membuat lagu diperlakukan secara generik.
3. Datang ke Studio Tanpa Arah yang Jelas
Banyak musisi datang dengan niat baik, tapi tanpa keputusan:
Lagu ini mau dirilis di mana?
Target pendengarnya siapa?
Ini demo atau final?
Akibatnya, studio pun bekerja sambil menebak.
Dan menebak jarang menghasilkan keputusan terbaik.
Kriteria 1: Lokasi yang Mendukung Proses, Bukan Sekadar Dekat
Studio di Margonda Depok memang unggul secara akses.
Dekat transportasi, dekat pusat aktivitas, dan relatif mudah dijangkau dari berbagai arah.
Namun lokasi yang ideal bukan hanya soal:
Dekat kos, dekat kampus, atau dekat mall.
Lokasi yang baik adalah yang:
Memungkinkan sesi panjang tanpa terganggu.
Tidak membuat musisi kelelahan sebelum rekaman dimulai.
Aman dan nyaman untuk bekerja fokus.
Banyak sesi rekaman gagal bukan karena lagunya buruk,
tetapi karena energi musisi sudah habis sejak awal.
Kriteria 2: Studio yang Mulai dari Diskusi, Bukan Tombol Record
Studio profesional seharusnya tidak terburu-buru menyalakan mic.
Yang perlu kamu cari:
Studio yang bertanya dulu, seperti apa visi lagu musisi, arah mana yang dituju.
Mendengarkan referensi banyak membantu menyamakan visi. Waktu tak terbuang dengan di tengah sesi sama-sama bingung.
Memahami konteks lagu. Konteks yang disampaikan secara utuh meminimalisir salah tangkap pendengar.
Pertanyaan sederhana seperti:
“Ini lagu mau rilis ke mana?”
“Ingin terdengar seperti apa?”
“Apa yang paling penting dari lagu ini?”
Sering kali justru menentukan keberhasilan produksi.
Studio yang baik tidak langsung bekerja,
mereka memastikan bekerja ke arah yang benar.
Kriteria 3: Alur Produksi yang Jelas dari Awal hingga Akhir
Banyak studio berhenti di kata rekaman.
Padahal rekaman hanyalah satu bagian kecil dari produksi lagu.
Studio profesional seharusnya mampu menjelaskan:
Apa yang terjadi sebelum rekaman?
Apa yang terjadi setelah rekaman?
Bagaimana lagu sampai siap rilis?
Alur yang jelas biasanya mencakup:
- diskusi konsep
- pre-production
- recording
- editing
- producing
- mixing
- mastering
- persiapan rilis
Tanpa alur ini, produksi sering terasa lompat-lompat dan melelahkan.
Kriteria 4: Fleksibilitas Berdasarkan Kebutuhan Lagu
Lagu akustik, lagu band, lagu elektronik, dan lagu vokal minimalis
tidak bisa diperlakukan dengan pendekatan yang sama.
Studio musik yang baik:
Tidak memaksakan paket. Tidak semua lagu berangkat dari awal yang sama.
Tidak menyamaratakan semua klien. Setiap klien punya visi dan preferensi masing-masing.
Tidak menjual satu solusi untuk semua masalah. Setiap karya punya masalah unik.
Pendekatan fleksibel justru menunjukkan kedewasaan studio.
Karena lagu bukan produk pabrik.
Ia karya yang hidup.
Kriteria 5: Engineer dan Producer yang Mendengar, Bukan Hanya Mengatur
Alat bisa dibeli.
Pengalaman tidak.
Yang perlu kamu perhatikan:
Apakah engineer mendengarkan performa atau hanya meteran?
Apakah producer peduli pada rasa atau hanya struktur?
Studio musik profesional bukan soal siapa paling banyak plugin,
tapi siapa yang tahu kapan tidak perlu menambahkan apa pun.
Sering kali, keputusan terbaik adalah tidak melakukan apa-apa.
Kriteria 6: Komunikasi yang Tenang dan Transparan
Produksi musik adalah proses yang rentan.
Banyak ego, banyak ekspektasi, banyak emosi.
Studio musik yang baik:
Menjelaskan dengan bahasa manusia. “250hz perlu cut karena muddy, dan air ada di 20k.” Tak semua orang bicara dengan bahasa itu.
Tidak menakut-nakuti dengan istilah teknis. “Track yang ini mengalami phase cancellation, nanti di mastering susah dapet clarity.” Alih-alih memberi solusi justru beri neraka pikiran.
Tidak menjanjikan hasil instan. “Pake plugin ini dijamin langsung joss.” Semua tergantung pilot.
Kejujuran jauh lebih berharga daripada janji.
Kriteria 7: Studio yang Tidak Melepas Klien di Tengah Jalan
Banyak musisi memiliki file rekaman,
tapi tidak tahu harus berbuat apa selanjutnya.
Studio profesional seharusnya:
Membantu memastikan file siap rilis. Tahu mana 44.1Khz, 48Khz.
Memahami kebutuhan distribusi. Lagu bisa dirilis dari studio tak perlu cari makelar rilis lagu.
Menjaga konsistensi versi lagu. Radio cut, explicit, clean. Jelas.
Karena lagu yang berhenti di harddisk
secara praktis belum pernah lahir.
Lalu, Bagaimana dengan Studio Musik di Margonda Depok?
Jika kamu mencari studio musik profesional di Depok, khususnya area Margonda dan dekat UI, maka kriteria-kriteria di atas seharusnya menjadi dasar.
Bukan nama besar.
Bukan harga termurah.
Bukan juga janji tercepat.
Tetapi kesesuaian pendekatan dengan kebutuhan lagumu.
Posisi Dimulti Music dalam Kriteria Ini
Dimulti Music berada di Depok, area Margonda, dan dekat Universitas Indonesia. Namun lokasi hanyalah pintu masuk.
Yang kami kerjakan setiap hari adalah:
Memulai dari diskusi, bukan dari rekaman. Artis nasional, produser pemenang grammy awards. Pernah berurusan dengan kami.
Membantu musisi memahami lagunya sendiri. Lagu sesuai dengan apa yang ada dalam ide pencipta.
Menangani produksi dari ide hingga siap rilis. Semua perangkat pendukung bisa menghantarkan karya hingga rilis.
Menjaga agar proses tetap terarah dan manusiawi. Kembali lagi. Penciptaan tentang rasa manusia. AI? Yakin? Mau mencipta karya jujur atau hanya tersanjung teknologi?
Kami terbiasa menangani:
- Musisi indie yang ingin rilis serius
- Artis dengan target pasar jelas
- Content creator dengan standar audio tinggi
- Hingga kebutuhan label dan komersial
Pendekatan kami tidak berubah.
Yang berubah hanyalah kebutuhan lagunya.
Mengapa Kami Tidak Langsung Bicara Harga?
Karena harga tanpa konteks hampir selalu menyesatkan.
Lagu berbeda → kebutuhan berbeda → pendekatan berbeda → biaya berbeda.
Kami lebih memilih:
Memahami tujuan lagu. Setiap artis punya tujuan masing-masing.
Menentukan alur yang tepat. Setiap karya lahir punya jalannya sendiri.
Baru kemudian membicarakan skema kerja.
Bukan untuk mempersulit,
tapi untuk menghindari penyesalan di akhir.

Memilih Studio Adalah Bagian dari Produksi
Banyak orang mengira produksi lagu dimulai saat rekaman.
Pengalaman berkata sebaliknya.
Untuk musisi yang membutuhkan rekam lagu profesional bisa datang ke studio yang pro pula.
Produksi lagu dimulai saat kamu memutuskan:
Lagu ini mau diperlakukan seperti apa?
Siapa yang kamu percaya untuk menanganinya?
Studio musik bukan sekadar ruangan berisi alat.
Ia partner kreatif yang ikut bertanggung jawab atas hasil akhir.
Kami lebih suka ngobrol dulu sebelum masuk studio.
Karena dari percakapan itu, biasanya sudah terlihat:
apakah kita satu arah atau tidak.
Jika kamu berada di Depok, sekitar Margonda, dan mencari studio musik profesional dekat UI
yang bekerja dengan alur jelas, pendekatan tenang, dan fokus ke hasil,
maka penting untuk memilih dengan sadar.
Karena dalam musik,
yang paling mahal bukan biaya produksi,
melainkan lagu yang seharusnya bisa lebih baik
tapi tidak pernah diberi kesempatan.