Jl. Margonda No.15, Depok, Jawa Barat 16424 - Indonesia

Risiko Brand Image Jika Hotel Abaikan Lisensi Musik

October 27, 2025

Beberapa hotel tampaknya masih percaya diri memutar playlist dari Spotify pribadi di ruang publik, seolah-olah hukum dan reputasi itu sekadar teori. Masalahnya, dunia nyata tidak punya tombol “mute.” Sekali tamu mendengar iklan Spotify di tengah suasana fine dining, semua ilusi kemewahan runtuh seketika.

Yang tersisa hanyalah rasa malu yang bergaung di ruang beraroma aromaterapi mahal. Spa dan Kolam sudah sesuai plan untuk meningkatkan brand hotel, sekarang kita lanjut ke image.

Risiko Brand Image Jika Hotel Abaikan Lisensi Musik

Musik Gratis, Citra Berkurang

Hotel menjual suasana, bukan hanya kamar.
Dan suasana adalah pengalaman multisensorik yang tidak bisa disusun dengan potongan gratisan.

Menurut Harvard Business Review (2020), 70 persen persepsi kualitas brand dipengaruhi oleh pengalaman sensorik, termasuk suara.
Jadi ketika kamu membangun hotel mewah tapi memutar musik dari YouTube, hasilnya seperti mengenakan jas Armani dengan sandal jepit.

Musik di ruang publik hotel adalah bagian dari desain atmosfer. Ia menyampaikan rasa, gaya hidup, dan nilai. Kalau sumbernya ilegal, maka pesan yang sampai ke telinga tamu juga ikut murah.

Detail yang Menggerogoti Kepercayaan

Tamu tidak perlu tahu undang-undang untuk menilai profesionalitas.
Begitu mereka sadar bahwa musik yang kamu putar tidak berlisensi, kesan langsung tertanam:

“Kalau hal kecil saja tidak profesional, apalagi hal besar.”

Di dunia hospitality, setiap detail adalah janji.
Dan janji yang diingkari dalam hal sekecil musik bisa membuat tamu merasa seluruh konsep “kelas” itu cuma pencitraan.

Hotel tidak pernah kehilangan reputasi karena satu kesalahan besar. Biasanya reputasi rusak karena hal-hal kecil yang diabaikan terus-menerus.

Kasus yang Menjadi Headline

Pemerintah melalui PP No. 56 Tahun 2021 sudah menetapkan bahwa penggunaan musik di ruang komersial tanpa izin termasuk pelanggaran hukum.
Sanksinya tidak main-main, denda bisa mencapai Rp4 miliar dan ancaman pidana 4 tahun penjara.

Dan kalau kamu berpikir “tidak akan ada yang tahu,” coba lihat apa yang terjadi pada beberapa hotel dan restoran yang diberitakan karena kasus royalti musik.
Beritanya tidak cuma dibaca, tapi juga disebar, dikomentari, dan disimpan di Google selamanya.

Sekali reputasi digigit oleh berita seperti itu, tidak ada tim PR yang bisa menambalnya tanpa bekas.

Kredibilitas Sebagai Mata Uang Utama

Hospitality hidup dari rasa percaya.
Kalau tamu tidak percaya, harga diskon, pemandangan laut, dan staf ramah pun tidak cukup untuk menebusnya.

Riset dari PwC (2022) menunjukkan bahwa kehilangan satu pelanggan loyal bisa menurunkan profit tahunan hingga 10 persen.
Dan pelanggan loyal tidak hilang karena bantal kurang empuk, tapi karena citra brand kehilangan integritas.

Mengabaikan lisensi musik memberi pesan bahwa hotelmu menghargai kemewahan tampilan, tapi tidak menghargai etika.
Dan untuk tamu yang peka, itu tanda bahaya.

Efek Internal yang Jarang Disadari

Saat manajemen menutup mata terhadap pelanggaran kecil seperti lisensi musik, staf ikut belajar bahwa aturan bisa dinegosiasikan.
Dari situ, standar kerja mulai kabur.
Profesionalisme berubah jadi formalitas, dan perlahan, budaya hotel kehilangan disiplin.

Musik legal adalah bentuk disiplin estetika.
Kalau kamu bisa menghargai hak cipta, berarti kamu juga menghargai detail lain seperti kebersihan, pelayanan, dan kejujuran.
Hal kecil yang menentukan arah besar.

Solusi yang Tetap Terdengar Elegan

Membayar lisensi musik bukan pemborosan, tapi investasi atmosfer.
Sistem seperti Hak Kepemilikan Musik Terbatas dari Dimulti Music memungkinkan hotel memiliki playlist eksklusif dan legal, disesuaikan dengan karakter setiap area, dari lobi hingga spa.

Tidak ada gangguan iklan, tidak ada risiko hukum, dan yang paling penting, ada konsistensi suara yang memperkuat citra brand.

Musik legal tidak hanya terdengar lebih bersih, tapi juga terasa lebih jujur. Dapatkan di halaman Shop kami. Kumpulkan musik atau lagu bebas royalti. Dapatkan hak kepemilikan lagu sementara. Hanya Rp. 10.00 per bulan. Putar musik jadi legal dan aman di tempat usaha Anda.

Konklusi

Hotel tidak hanya menjual tempat tidur dan makan pagi. Ia menjual pengalaman dan kepercayaan.
Dan dalam dunia pengalaman, suara adalah emosi pertama yang dirasakan tamu bahkan sebelum kata “selamat datang.”

Mengabaikan lisensi musik bukan hanya pelanggaran hukum, tapi pengkhianatan terhadap profesionalisme.
Citra premium tidak bisa hidup berdampingan dengan praktik asal-asalan.
Kalau hotelmu masih memutar playlist gratisan, jangan kaget kalau tamu mulai mendengar sesuatu yang jauh lebih keras daripada musikmu sendiri: reputasi yang retak. <DM>